Award Berita Flash Nasional Politik Technology Terpopuler

Perayaan IMLEK Januari 2020 di Vihara Avalokitesvara Jl Mangga Besar raya No 58 Jakarta Barat


PersNews, Mangga Besar, Sabtu, 25 Januari 2020,
Vihara Avalokitesvara didirikan oleh seorang biarawati yang bernama Kho Nio Lim Giok Tien. Pada mulanya, yaitu tahun 1936, biarawati Kho Nio Lim Giok Tien dengan mendapatkan dukungan dana dari umat, mendirikan “Vihara Thian Su Tong” di Jalan Mangga Besar Raya nomor 58 Jakarta Barat. Saat itu vihara digunakan sebagai tempat bersembahyang untuk memuliakan Dewi Kwan She Im Po Sat dan tempat tinggal para umat yang ingin menyucikan diri dan berbakti untuk pengembangan agama Buddha Mahayana dengan ajaran welas asih Dewi Kwan She Im Po Sat. Pada tahun 1966 namanya diubah menjadi “Vihara Avalokitesvara” atau yang sering dikenal juga sebagai “Guan Yin Tang”, yang dipakai hingga sekarang.
Kho Nio Lim Giok Tien tidak mempunyai murid biarawati penerus yang akan melanjutkan pengurusan vihara, maka menjelang meninggalnya pada Januari 1982, dengan disaksikan oleh beberapa umat, antara lain Ibu Dewi Juwita dan Almarhum Dr. Alex Tjandra S.H., beliau menunjuk Y.A. Bhiksu Dutavira sebagai penerus untuk memelihara, mengelola dan mengurus vihara.
Pada saat itu umat yang datang ke vihara boleh dikatakan sangat sedikit sekali dan tidak melakukan kebaktian, melainkan hanya melakukan tiam hio atau memasang dupa saja. Di bawah kepemimpinan Y.A. Bhiksu Dutavira mulailah diadakan kebaktian bersama dan diajarkan ajaran Agama Buddha. Pada awalnya, kebaktian hanya dihadiri 7 umat, akan tetapi semakin hari semakin banyak umat yang mengikuti kebaktian dan bersembahyang.
Dengan jumlah umat yang semakin berkembang, maka pada tahun 1983 sampai medio tahun 1984 vihara mengadakan renovasi Dharmasala, hingga dapat menampung 150 umat untuk melakukan kebaktian bersama. Sedikit berkilas balik tentang pencarian rupang Dewi Kwan Im Po Sat pada tahun 1983, karena sesuai dengan nama Vihara Avalokitesvara berarti seharusnya vihara mempunyai sebuah rupang Avalokitesvara Bodhisattva; maka pada saat renovasi, dengan dana yang teralokasi saat itu sebesar 18 juta rupiah, Y.A. Bhiksu Dutavira mencari rupang Dewi Kwan Im Po Sat ke berbagai tempat, sampai akhirnya ke negeri Singapura, di negeri ini ditemukanlah sebuah rupang Dewi Kwan Im dengan pose sedang menuang air yang bermakna memberi air kehidupan memberi harapan dan kebahagiaan, rupang tersebut milik seorang bhiksu dan dihargai 48 juta rupiah, yang pasti jumlah tersebut sangatlah jauh dari dana yang dialokasikan. Dengan pertimbangan kebaikan bhiksu yang membolehkan untuk membawa, Y.A. Bhiksu Dutavira berdoa dan melakukan poa pwe (melempar dua belah kayu yang menyerupai bentuk kacang) untuk mendapatkan izin membawa rupang tersebut ke Indonesia. Ternyata memang perbuatan bajik selalu mendapatkan berkah dari Hyang Buddha, meskipun dana yang terkumpul awalnya tidak mencukupi, tetapi umat berduyun-duyun memberikan dana untuk pembelian rupang sehingga dana terkumpul dengan mudah dan tercukupi, bahkan lebih.
Sejalan dengan perkembangannya selain sebagai tempat kebaktian, tempat belajar Dharma atau kursus ajaran Buddha, vihara juga mengadakan kursus-kursus umum yang menunjang pemahaman agama Buddha, antara lain kursus bahasa Mandarin, bahasa Inggris, kursus komputer, kursus matematika atau pelajaran sekolah secara gratis selain itu juga melakukan kegiatan sosial dan kunjungan-kunjungan ke panti jombo, panti asuhan, penyantunan orang meninggal, kunjungan umat kepada orang usia lanjut, memberikan bea siswa maupun membiayai anak asuh.
Mempertimbangkan kegiatan di vihara yang semakin beragam serta kondisi vihara yang semakin tidak memadai untuk melakukan pengembangan berbagai kegiatan atau pun untuk menampung umat yang bertambah terus, akhirnya dicanangkan pembangunan kembali vihara yang dimulai pada tanggal 31 Mei 2001 pukul 05.00 WIB dengan tujuan memberikan kemudahan dan pembinaan kepada umat untuk belajar agama lebih lanjut. Agar kegiatan keagamaan dan yang lainnya dapat tetap berlangsung selama masa pembangunan, maka pembangunan kembali vihara dilakukan dalam 2 tahapan, dimana bagian belakang sebanyak 5 ½ lantai dikerjakan terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan bagian depan sebanyak 6 ½ lantai yang kemudian dikembangkan menjadi 7 lantai seperti saat ini. Secara seremonial pembangunan kembali vihara dinyatakan selesai serta diresmikan oleh Dirjen Agama Buddha Irjen Pol. Drs. Budi Setiawan pada tanggal 23 Juli 2006.
Vihara Avalokitesvara terletak di Jalan Mangga Besar Raya No.58, Kelurahan Mangga Besar, Kotamadya Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta. Vihara ini sangat mudah dicapai karena berada di sisi jalan raya yang ramai dengan lingkungan perkantoran dan pertokoan serta tidak jauh dari pusat bisnis Mangga Dua dan Stasiun Kota. Vihara yang juga dikenal dengan nama Guan Yin Tang berada di bawah pengelolaan Yayasan Satya Graha. Vihara ini merupakan Vihara Buddhis yang ditujukan kepada Dewi Kwan Im dan Buddha Sakyamuni.Dilihat dari bentuknya, bangunan seperti rumah tinggal biasa. Ciri yang dapat dikenali adalah adanya sebuah wadah dupa yang terletak di depan pintu masuk halaman serta tungku pembakaran kertas yang terdapat di bangunan samping.
Bangunan vihara ini terletak di atas tanah ±1000 m2 dengan luas bangunan utama ±300 m2. Dibagian depan terdapat pagar besi yang dicat hitam. Pintu masuknya terdapat di tengah-tengah. Bangunan menghadap utara. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang. Teras depan merupakan ruang terbuka yang cukup sempit karena dulunya pernah mengalami pemotongan luas tanah untuk keperluan jalur lambat. Lantainya ditutup ubin keramik warna putih polos berukuran 30 x 30 cm. Di teras ini, tepatnya di depan pintu masuk terdapat wadah dupa, yang terbuat dari kuningan, bentuknya bulat dengan tiga buah kaki, hiasan terdapat pada bagian badan dan kaki berupa hiasan barongsai.
Pintu masuk menuju ruang utama berada di tengah-tengah yang dilengkapi daun pintu dari kayu jati yang dicat berwarna merah. Lantai ruangan ditinggikan ±10 cm dan ditutup ubin marmer berukuran 40 x 40 cm. Dinding luar yang juga merupakan dinding teras diberi lubang angin serta diberi hiasan motif swastika dari besi yang dicat warna hitam dan merah. Dinding bagian dalam dicat warna krem.
Atap bangunan berbentuk pelana, tanpa hiasan, ditutup genteng. Di sudut kiri pintu masuk terdapat sebuah tambur dan di sudut kanannya terdapat sebuat genta yang digantungkan dekat jendela. Pada awalnya bangunan utama terdiri dari 2 ruangan yang disekat tembok, dimana pada bagian depan terdiri dari altar Avalokitesvara Bodhisattva di bagian tengah, altar Kwan Kong di sisi kanan dan altar Dewa Tai Sui di sisi kiri. Dalam perkembangan selanjutnya sekat tembok di bagian tengah dibuka karena semakin banyaknya umat yang bersembahyang sehingga altar Avalokitesvara Bodhisattva digabung menjadi satu dengan altar utama Sakyamuni Buddha.
Dinding ruang Dharmasala dilapisi porselin bergambar Avalokitesvara Bodhisattva dengan nama-nama donatur di bawahnya. Altar utama dilapisi marmer dan dindingnya ditutup keramik berwarna hitam. Pada tingkat I terdapat patung Sakyamuni Buddha dalam ukuran yang besar. Patung ini terbuat dari bahan fiber yang dicat berwarna kuning emas. Posisi patung duduk di atas teratai dengan aura lidah api. Tingkat II berisi patung kayu Dewi Kwan Im dengan manifestasi tangan seribu, duduk di atas bunga teratai. Tingkat ke III terdapat patung Kwan Im dalam posisi berdiri memegang botol dengan ekspresi wajah yang lembut, patung ini terbuat dari kayu.
Ruang lainnya adalah ruang tambahan di sisi kiri altar untuk mengenang jasa, ruang belakang yang terdapat ruang tamu dan sekaligus dapat merangkap sebagai ruang serba guna, juga terdapat ruang perpustakaan, dapur, tempat tinggal dan lain-lain. (dengan kutipan “Kelenteng Kuno Di DKI Jakarta Dan Jawa Barat”, Dept.Pendidikan Nasional).
Bangunan vihara saat ini menempati luas tanah 18 x 47 m, terdiri dari 7 lantai untuk bagian depan dan 5 ½ lantai untuk bagian belakang, dengan halaman depan sebagai tempat parkir kendaraan dan tempat tungku pembakaran kertas. Sebagai penghubung antar lantai, vihara dilengkapi dengan 2 buah tangga, di bagian depan dan bagian belakang bangunan, serta 2 buah lift.
Masing-masing lantai dari bangunan vihara mempunyai fungsi tersendiri, yaitu : Lantai 1 : Digunakan sebagai ruang sembahyang, toko souvenir, ruang makan umum, dapur, tempat administrasi dan lain-lain Lantai 2 : Digunakan untuk ruang Dharmasala altar utama Lantai 3 : Digunakan untuk ruang kantor sekretariat, ruang kantor, kampus STAB Dutavira, dan perpustakaan Lantai 4 : Digunakan untuk tempat tinggal para bhiksu Lantai 5 : Digunakan untuk ruang mengenang jasa Lantai 6 : Digunakan untuk ruang altar sekaligus sebagai ruang meditasi,ruang studio,gudang Lantai 7 : Digunakan sebagai ruang aula serbaguna, lapangan olahraga, gudang.
Lantai 1 : merupakan tempat sembahyang yang lebih ditujukan untuk umat yang ingin bersembahyang tiam hio. Setelah memasuki pintu utama kita akan langsung disambut oleh tiga rupang kayu Kuan Im Pu Sa yang diukir dengan sangat indah. Pada lantai 1 selain terdapat altar Tie Kong atau Tian Kung yang terletak di depan pintu vihara, juga terdapat altar Se Mien Fo atau Dewa 4 Muka terletak pada bagian tengah, dan pada bagian utama terdapat altar Buddha, Avalokitesvara Bodhisattva, di bagian kirinya terdapat altar Dewa Tai Sui serta di bagian kanannya terdapat altar Dewa Kwan Kong.
Lantai 2 : merupakan altar utama atau ruang Dharmasala, pada lantai ini juga terdapat altar Tie Kong, altar mengenang jasa berupa papan nama. Pada altar utama di tingkat I terdapat 3 rupang Buddha yang merupakan rupang Sakyamuni Buddha, Bhaisajyaguru Buddha dan Amitabha Buddha serta rupang Dewi Kwan Im dengan manifestasi tangan seribu. Pada tingkat II terdapat rupang Dewi Kwan Im.
Lantai 3 : Terdapat perpustakaan yang buka setiap hari Minggu pada pukul 09.00-15.00.
Lantai 5: yang merupakan ruang mengenang jasa dan dimanfaatkan sebagai rumah abu, di lantai 5 ini terdapat altar Bhaisajyaguru Buddha dalam pose berdiri.
Lantai 6: Pada altar terdapat rupang Amitabha Buddha, Manjusri Bodhisattva dan Avalokitesvara Bodhisattra dengan pose berdiri. Dan Lantai 7 : Lantai Terakhir.(red)

persnews
Aktual, Tajam, Terpercaya;
http://www.persnews.id